Pendekatan Baru dalam Penilaian Status Konservasi dan Penerapannya pada Ikan Pelangi Endemik Papua

Abstrak

Secara berkala, IUCN mengeluarkan daftar spesies terancam dan status konservasinya melalui Red List. Indonesia juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 menetapkan kriteria penentuan spesies lindung dan status perlindungannya. Kedua ketentuan ini dibuat berdasarkan penilaian ukuran populasi dan ancaman terhadap habitat, serta tekanan pemanfaatan sebagai faktor utama penentuan kriteria keterancaman dan status konservasi spesies. Namun, dalam pelaksanannya kriteria ini sulit dilaksanakan karena keterbatasan data dan informasi sementara tingkat ancaman, terutama perubahan dan kehilangan habitat terus meningkat sejalan dengan peningkatan pembangunan. Penelitian ini mengusulkan suatu pendekatan baru dalam menilai status keterancaman species, terutama menggunakan kriteria yang digunakan IUCN yaitu penilaian atas keadaan habitat (kehilangan dan kerusakan). Pendekatan baru ini diterapkan dalam penilaian ikan pelangi endemik Papua. Penilaian dilaksanakan dengan melalukan tupang susun daerah penyebaran ikan endemik dengan berbagai kegiatan pembangunan, baik yang sedang berjalan maupun dalam tahapan perencanaan dengan Arcgis. Daerah penyebaran yang ditumpang susun dengan berbagai kegiatan pembangunan berskala besar kemudian dihitung luas daerah penyembaran ikan yang terancam. Sebuah matrik dibuat untuk menghitung berbagai ancaman atas habitat atau daerah penyebaran tiap spesies yang dianalisa untuk menentukan tingkat keterancaman spesies dan status konservasinya. Pendekatan analisa ini menyimpulkan ada empat spesies kritis, 11 spesies terancam dan 15 spesies rawan. Pendekatan ini memungkin penilain status dapat dilaksanakan beberarapa spesies bersamaan dibandingkan dengan penilaian yang menggunakan penilain populasi sebagaimana dianjurkan IUCN. Namun pendekatan lebih tepat bagi spesies dengan habitat penyebaran tertentuatau daerah penyebaran telah diketahui, seperti spesies yang terdapat pada danau, pulau atau puncak gunung dan spesies yang daerah penyebarannya telah terpetakan dengan jelas.

https://doi.org/10.47039/ish.3.2021.113-126
PDF

Referensi

Allen, G. R., Renyaan, S. J. (1998). Survey of the Freshwater Fishes of Irian Jaya, Phase II (B) - 1998, Fishes of the Raja Ampat Islands.

Allen, G. R., Renyaan, S. J. (2000). Survey of the Freshwater Fishes of Irian Jaya- Fishes of the Raja Ampat Islands, Misool Island, and South-Central Vogelkop Peninsula.

Allen, G.R Renyaan, S. J. (2000). Fishes of the Wapoga River System, Northwestern Irian Jaya, Indonesia. In L. E.

Mack, A. L. , Alonso (Ed.), A Biological Assessment of the Wapoga River Area of Northwestern Irian Jaya, Indonesia - RAP Bulletin of Biological Assessment 14 (p. 129). Conservation International.

Allen, G. R. (1991). Field guide to the freshwater fishes of New Guinea. Christensen Research Institute.

Allen, G. R. (1995). Rainbowfishes. Tetra-Verlag.

Allen, G. R. (1998). A new genus and species of rainbowfish (melanotaeniidae) from fresh waters of Irian Jaya, Indonesia. Revue Fr. Aquariol, 25(1–2), 11–15.

Allen, G. R., Ohee, H., Boli, P., Bawole, R., & Warpur, M. (2002). Fishes of the Yongsu and Dabra areas, Papua, Indonesia. A Biodiversity Assessment of the Yongsu-Cyclops Mountains and the Southern Mamberamo Basin, Northern Papua, Indonesia, RAP Bullet(25), 67–72.

Badan perencanaan dan pengendalian pembangunan daerah (BP3D) Provinsi Papua. (2003). Gambar peta kabupaten di Provinsi Papua.

Badan Planologi (BAPLAN), D. kehutanan. (2001a). Peta HPH di Provinsi Papua.

Badan Planologi (BAPLAN), D. kehutanan. (2001b). Peta Perkebunan di Provinsi Papua.

BAPPEDA dan BPS Provinsi Irian Jaya. (2000). Irian Jaya dalam angka 1999.

BP3D dan BPS Provinsi Papua. (2003). Papua dalam angka 2002.

Conservation International. (1999). Laporan akhir lokakarya penentuan prioritas konservasi keanekaragaman hayati Irian Jaya.

Diamond, J. (1989). Overview of recent extinctions. In M. Western D, Pearl (Ed.), Conservation for the Twenty-first Century. Wildlife Conservation International.

Eken, G. et.al, (2004). Key biodiversity areas as site conservation targets. BioScience, 54(12), 1110–1118. https://doi.org/10.1641/0006-3568(2004)054[1110:KBAASC]2.0.CO;2

FAO. (1981). National conservation plan for Indonesia vol. VII: Maluku and Irian Jaya.

Krebs, C. . (2001). Ecology: the experimental analysis of distribution and abundance, fifth edition. Benjamin cummings.

Mack, A. L., Alonso, L. E. (Ed.). (2000). Biological Assessment of the Wapoga River Area of Northwestern Irian Jaya, Indonesia - RAP Bulletin of Biological Assessment 14. Conservation International.

Mertens, B. (2002). Spatial analyses for the rapid assessment of conservation and economy (RACE) in Irian Jaya, revised version.

Monk, K.A., de Fretes, Y, Reksodihardjo-Lilley, G. (2000). Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku – Seri Ekologi Indonesia Buku V. Prenhallindo.

Moyle, P. B., Leidy, R. A. (1992). Loss of biodiversity in aquatic systems: Evidence from fish fauna. In S. K. Fiedler, P. L., Jain (Ed.), Conservation biology: the theory and preservation and management (p. 22). Chapman & Hall.

Patay, M. (2002). Kawasan konservasi di Papua: Analisa kesenjangan dan ancamannya serta pengetahuan konservasi dan sikap LSM terhadap desentralisasi kebijakan. Universitas Indonesia, Depok.

Sumantri, H. (2002). Laporan analisis spasial kondisi penutupan hutan di Papua dan perubahannya.

Creative Commons License

Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.