Pemanfaatan Sarang Semut (Myrmecodia sp.) Asal Sasnek – Wendi Kabupaten Sorong Selatan sebagai Teh Sarang Semut

Abstrak

Potensi KPHP Sorong Selatan Unit V baik berupa hasil kayu, non kayu dan jasa cukup melimpah. Salah satu potensi adalah komoditi sarang semut yang perlu dikelola secara berkelanjutan agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah. KPHP melibatkan masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah sarang semut melalui inovasi pengelolaan menghasilkan produk teh sarang semut. Berdasarkan hasil kajian menemukan bahwa proses pembuatan teh sarang semut terbagi dalam 3 tahapan yaitu penyiapan sarang semut, pengeringan sarang semut, pembuatan serbuk menjadi produk teh kemasan. Introduksi teknologi tepat guna dalam pemanfaatan tumbuhan sarang semut menjadi produk teh celup sarang semut dengan nama produk Sarmut SW.


https://doi.org/10.47039/ish.2.2020.25-33
PDF

Referensi

Crisnaningtyas, F., & Rachmadi, A. T. (2010). Pemanfaatan Sarang Semut (Myrmecodia pendens) Asal Kalimantan Selatan Sebagai Antibakteri. Jurnal Riset Industri Hasil Hutan, 2(2), 31–35. https://doi.org/10.24111/jrihh.v2i2.1144

Dewi, Y. S. K., & Dominika. (2008). Aktivitas Antioksidasi Ekstrak Fenol Umbi Sarang Semut (Hydnophytum sp.) pada Berbagai Suhu Penyeduhan. Agritech, 28(2), 91–96. https://doi.org/10.22146/agritech.9867

Djajono, A. (2018, March 21). Peran Strategis Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Agroindonesia.Co.Id. http://agroindonesia.co.id/2018/03/peran-strategis-kesatuan-pengelolaan-hutan-kph/

Erminawati, & Naufalin, R. (2013). Sifat Fisikokimia dan Aktivitas Antioksidan Sarang Semut (Myrmecodia pendans) Sebagai Pengawet Alami Pangan. Seminar Nasional PATPI 2013.

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK Menhut 771/Menhut-VII/2012 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Model Sorong Selatan (Unit V), yang terletak di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat seluas ± 283.260 (Dua Ratus Delap, Pub. L. No. 771 (2012).

Mardany, M. P., Chrystomo, L. Y., & Karim, A. K. (2016). Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Sitotoksik dari Tumbuhan Sarang Semut (Myrmecodia beccarii Hook. f.) Asal Kabupaten Merauke. Jurnal Biologi Papua, 8(1), 13–22. https://doi.org/10.31957/jbp.41

Rivai, H., Nurdin, H., Suyani, H., & Bakhtiar, A. (2010). Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Daun Dewa (Gynura pseudochina (L.) DC.). Majalah Obat Tradisional, 15(1), 26–33. https://doi.org/10.22146/tradmedj.8065

Setiawati, E., & Crisnaningtyas, F. (2013). Formulasi Permen dari Sarang Semut Asal Kalimantan Selatan. Jurnal Riset Industri Hasil Hutan, 5(2), 31–36. https://doi.org/10.24111/jrihh.v5i2.1216

Sudiono, J., Oka, C., & Trisfilha, P. (2015). The Scientific Base of Myrmecodia pendans as Herbal Remedies. British Journal of Medicine and Medical Research, 8(3), 230–237. https://doi.org/10.9734/BJMMR/2015/17465

Wabia, E., & Siburian, R. H. S. (2019). Profil Tempat Tumbuh Sarang Semut (Myrmecodia spp.) di Distrik Manokwari Selatan Papua Barat. EnviroScienteae, 15(1), 91–94. https://doi.org/10.20527/es.v15i1.6328

Wulan, K. N., Muhartono, & Ramkita, N. (2017). Sarang Semut (Myrmecodia pendans) Sebagai Antikanker. Medula, 7(5), 140–143. http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/medula/article/view/1922

Creative Commons License

Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.